Man Jada Wajada

Lilin-lilin kecil mulai menari dalam gelap. Menyulut semangat malam yang kan di dekap. Sepintas sisa hujan masih ramai menghias spion nakal. Semuanya menyatu dalam akhir senja yang tak pernah kekal.

...

Senin, September 10, 2012

Filosofi Cangkir (Tarian Cantik Menghargai Kehidupan)

Ditempa musim yang silih berganti

Diterjang badai yang tak henti-hentinya memberi jeda, meski hanya sedetik saja

Dikejar angin yang senantiasa membuat hilang kendali perdamaian jiwa



_Sepenggal sketsa kegalauan yang mungkin pernah singgah_

___________________________________________________________________



Sebagian orang bilang hidup tanpa masalah itu hampa dan hidup bersama masalah menjadi kesempatan untuk bisa menghidupkan hidup agar lebih dewasa. Yakin dengan pernyataan ini??? (Dengarkanlah bisikan hati Anda) ^^



Mereka Tidak Diam

Belajar, anggapan kebanyakan orang istilah ini selalu diidentikan dengan ruang kelas, sekolah, kurikulum, dan "tetek bengek" lainnya. Bagi saya belajar tidak harus terikat, belajar adalah dimana dan kapan pun kita berada, jiwa, hati, juga akal kita "bermain" di dalamnya, menyusuri makna yang bisa kita petik penuh hikmah. Konsep belajar yang lebih luas.Belajar pun tidak selalu terpaku dengan deretan teks-teks pada tumpukan buku yang menggunung bahkan menggudang. Maaf, terlalu picik jika hanya sebatas itu.



Coba,,, tengoklah sebuah cangkir di sana!Benda mati yang secara nyata tidak bisa berbicara. Namun sebenarnya ia selalu berbicara kepada kita dengan diamnya itu.

Ia begitu anggun, menari dalam diam.



Satu tarian yang saya pahami darinya adalah "Tarian Cantik" Menghargai Kehidupan. Ya! Kurang lebih nama itu yang bisa mewakili maksudnya.Pastinya kita sudah hafal bagaimana cangkir itu bisa terciptakan dengan begitu cantik.

Tentu saja bukan dengan "bim salabim" sang Cangkir ada. Proses. Ya! Proses menjadi harga mati sebuah cangkir itu menjadi ada.



Berawal dari tanah liat yang mungkin sering diinjak-injak, kemudian sepesang tangan datang "merangkulnya" untuk menjadikannya bahan dasar sebuah cangkir.Tidak berhenti sampai situ, tanah pun mulai ditempa, dipukul-pukul, dipanggang dengan suhu luar biasa panas, didinginkan dengan suhu yang tidak kalah ekstremnya dengan proses pemanggangan, kemudian ia pun harus diukir.



Seandainya saja bakal cangkir itu diizinkan untuk bisa merasakan apa yang terjadi pada dirinya. Menangis, melarikan diri, mungkin ini yang akan dilakukannya. Atau justru tetap bertahan, menghadapi segala rintang yang ada?



Satu per satu tahap-tahap itu mulai mendekat pada garis "selesai". Waktu pun menjadi sahabat setia untuk cangkir, meski mereka sama-sama diam. Oh! Tidak! Mereka sebenarnya tidak diam. Mereka berbicara dengan bahasa mereka sendiri, hanya saja kita belum paham benar apa yang mereka sampaikan.



Dari sekian rentetan proses itu, menjelmalah sebuah cangkir cantik yang sangat indah dipandang mata. Ukiran, lukisan yang meliuk-liuk di "tubuhnya" semakin memperindah kehardiran cangkir itu. Nah,,, inilah sebait pesan yang hendak ia sampaikan kepada kita, makhluk berjiwa.



Memang sebuah keniscayaan...

Apa yang dititipkan-Nya sudah dititahkan untuk bergerak dalam ketaatan.



Hanya saja... terkadang raga ini terlalu mudah mengujarkan kata "menyerah" saat duri-duri kehidupan sedang menyapa pelan.



Tak apa, air matamu menyertai dukamu

Biarkan ia hadir, menjadi sahabat juga saksi perjuangan yang sedang engkau senandungkan



Tak apa, jika memang setetes darah harus mengalir mengiringi langkahmu.Bisa jadi ia adalah pintu yang akan membawamu masuk ke istana bahagia karena ridho-Nya.



Hakikatnya kepedihan, kesedihan, kepahitan yang pernah, sedang, bahkan akan kita rasakan adalah sebuah keniscayaan yang pastinya akan membawa kita, membentuk jiwa kita sebagai sosok yang "cantik".



Karena apa?

Karena Allah tidak akan pernah membiarkan kita melangkah sendiri dalam hidup ini.Dan tidak mungkin pula hidup tanpa ujian meski hanya setitik saja.



Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar