Man Jada Wajada

Lilin-lilin kecil mulai menari dalam gelap. Menyulut semangat malam yang kan di dekap. Sepintas sisa hujan masih ramai menghias spion nakal. Semuanya menyatu dalam akhir senja yang tak pernah kekal.

...

Sabtu, September 22, 2012

Sajak Bersambung


Ada kabar yang kurang sedap malam ini,
yang kebanyakan orang akan suka dengan malam berbintang
namun aku justru ingin malam ini hujan

Menanti hujan di tapak angin yang masih berbisik pelan
Melaju pasang cita dalam khayal,
merengkuh nikmat masa depan.

Tapi tak apalah, tak ada hujan sekarang.
Mungkin saja ia pun turut sibuk bermalam-mingguan,
sama, seperti sebagian anak muda-mudi sekarang.

Baiklah, ini sajak untuk sang hujan
Berharap ia membaca tulisan ini
dengan rinai-rinainya yang riang dan damai.

Pena mulai berputar-putar
meliuk-liuk di atas kertas putih,
sedikit kusam dan ada bekas lipatan

Tak apa, itu menjadi asesoris tambahan
yang bisa menambah keeksotikan,
yang jelas pena dan kertas sudah mulai berlaga ringan

Baiklah, narasi bermula dari sebatang ranting
yang sedang merenung sendiri
samar-samar terdengar angin berlalu lalang dari arah belakang

"Sedang apa kau di sini hai angin?"

"Apa maksudmu bertanya seperti itu? Bukankah kau sendiri juga
perlu ada teman sekarang?"

"Awalnya seperti itu,
namun seketika hilang, setelah kau datang".

"Kau tak usah bergurau. Kita di sini digerakkan
oleh zat yang sama"

"Benar, tapi aku sedang menantikan hujan. Tapi malah kau yang datang".

"Belum tahukah engkau wahai ranting.
Justru aku ke sini akan menyampaikan pesan dari kerajaan awan di sana".

"Kerajaan awan? Apa maksudmu itu?"

"Kau ini memang lucu. Jelas saja kerajaan awan menitahkanku untuk
menyampaikan pesan ini kepada ranting-ranting yang tampak layu".

"Aku tidak layu. Aku hanya ingin ada hujan. Itu saja".


_Bersambung_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar