Man Jada Wajada

Lilin-lilin kecil mulai menari dalam gelap. Menyulut semangat malam yang kan di dekap. Sepintas sisa hujan masih ramai menghias spion nakal. Semuanya menyatu dalam akhir senja yang tak pernah kekal.

...

Rabu, Agustus 04, 2010

Sebuah Galian Makna Dari Relung Fisika

“Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du:11)
Merujuk pada arti QS.Ar Ra’du di atas, Alloh SWT memberikan toleransi besar kepada manusia dalam menjelajahi pilihan liku hidupnya.

Manusia diciptakan dalam bentuk yang sempurna, hingga pernyataan ini diabadikan dalam QS. At Tiin bahwa manusia itu bersifat ahsani takwim sebaik-baik bentuk penciptaan). Pada ayat lain Alloh SWT juga memuji sosok manusia dengan sebutan khairul bariyah (sebaik-baik fisik). Subhanalloh.

Akan tetapi predikat-predikat itu akan berubah seratus delapan puluh derajat menjadi asfala safilin (serendah-rendahnya makluk yang diciptakan) dan syarrul bariyah (seburuk-buruknya wajah),ketika manusia tidak mampu menyelaraskan potensi hidupnya itu dengan tuntutan wahyu, bahkan berusaha untuk membangkangnya. Na’udzubillah.

Di titik inilah seorang manusia bisa dikatakan telah mencapai titik stagnasi. Sebuah titik dimana aliran sejuk ayat-ayat-Nya terhenti dan sulit mengkapilaritas dalam keangkuhan dinding hatinya. Ritme hidup memang selalu berubah setiap detik, menuntut kestabilan hati-hati ini dalam periuk keistikomahan. Namun, fenomena sering berkata lain. Tidak jarang diantara kita tampak gersang dalam meniti derap langkah hidup. Tidak jarang pula Alloh SWT menyentil kita dengan alarm ayat-ayat-Nya, agar kita terbangun dan tergerak dari tidur panjang yang telah melalaikan kita dari orientasi hidup yang sebenarnya.

Saat jejak-jejak perjuangan mulai tertancap mantap dalam azam yang kuat, sebuah perubahan yang lebih baik akan menyambut riang dalam dekapan waktu mendatang. Setiap perubahan adalah sebuah proses, yakni proses untuk menjadi manusia yang berprestasi dalam kancah dunia dan akhirat. Seperti apa yang dikatakan oleh Afifah Afra dalam bukunya, bahwa orang yang berprestasi adalah orang yang setia pada proses, orang yang tekun dan sabar menjalani proses, karena berprestasi sendiri adalah sebuah proses.

Dalam proses perlu adanya ledakan daya, alunan motivasi yang kuat serta bekal yang cukup, tidak lain yaitu ilmu. Akan tetapi, perjalanan suatu proses tidak lurus begitu saja. Alloh SWT telah menyiapkan bumbu ujian sebagai penyedap langkah hidup manusia yang dikemas dalam balutan hikmah sarat hidayah. Seperti pernyataan kebanyakan orang bahwa hidup bukanlah sebuah garis atau lintasan lurus. Subhanalloh.

Ternyata pernyataan ini telah Alloh sisipkan dalam teori Kinematika tentang kelajuan sesaat. Tentunya kita masih ingat tentang teori tersebut, yang menyatakan bahwa ”kelajuan sesaat dimanapun dalam lekukan akan lebih besar dibandingkan pada lintasan yang datar atau lurus”. Untuk mengilustrasikan dalam kehidupan nyata, coba kita bayangkan percobaan ini.

Ada dua jenis lintasan yang terbuat dari bahan dan panjang yang sama. Salah satu ujung dari masing-masing lintasan dibengkokan ke arah vertikal. Kemudian, lintasan pertama tidak ada lekukan ditengahnya, sedangkan lintasan kedua terdapat lekukan di tengahnya. Pertanyaannya, ketika bola identik dilepas secara simultan, bola pada lintasan manakah yang akan sampai ke ujung lebih dahulu?. Pertama atau kedua?. Mungkinkah keduanya sampai dalam waktu yang bersamaan?

Sebelum kita menelusuri jawaban singkat pertanyaan tersebut, sebaiknya kita analogikan dalam nuansa nyata, yakni kehidupan kita yang sebenarnya. Memang benar “Hidup Bukanlah Sebuah Lintasan Lurus”. Adakalanya lintasan itu dilengkapi dengan lekukan-lekukan yang pada hakekatnya adalah bumbu penyedap hidup. Secara teori, sinkronisasi tentang lintasan itu bisa kita artikan sebagai jalan hidup manusia, bola adalah kita, manusia, dan ujung lintasan dimana kedua bola akan sampai adalah target kemenangan hidup kita.

Kembali ke pertanyaan di atas, jawaban menurut teori tersebut adalah bola pada lintasan kedualah yang akan sampai ke ujung terlebih dahulu, yaitu bola pada lintasan yang berlekuk. Mengapa?. Karena dalam teori dan praktek pun sudah jelas dan terbukti, bahwa kelajuan sesaat pada lekukan lebih besar daripada di lintasan datar yang pada akhirnya objek pada lintasan yang berlekuklah yang akan sampai di ujung terlabih dahulu.

Begitu juga dengan manusia. Kita akan mencapai level kemenangan, jika kita mampu melintasi setiap variasi lekukan hidup yang telah Alloh siapkan dengan berbagai bentuk skenario-Nya. Karena orang yang menang adalah orang yang mampu menaklukan untaian lekuk hidup ini.

Kemudian, ketika kita membayangkan bola yang melintas pada lintasannya, secara otomatis bola itu mengalami perpindahan yang berarti bahwa bola tersebut melakukan usaha. Ketika kita mengotak-atik tentang usaha, pastinya dalam Fisika pun tidak lepas dari bahasan usaha tersebut. Salah satu perumusan usaha adalah W=P.t dimana W: usaha P: daya dan t: waktu.

Esensinya adalah, bagaimana kita punya usaha untuk sebuah proses apabila tidak ada daya yang kuat dalam diri kita. Daya ini tidak lain adalah pengukuh semangat kita yakni niat kita Lillahi ta’ala dan semua itu akan terus berjalan seiring guliran waktu yang memakan skala besar. Semakin besar daya yang tertata dalam hati kita untuk menyelaraskannya dengan skala waktu yang besar pula, maka dengan sendirinya usaha akan menjadi modal kuat dalam menitahkan langkah-langkah perjuangan.

Hidup adalah sebuah proses. Dalam berproses kita memayungkan diri dalam payung Islam. Di sanalah kita bernaung untuk tetap mengorientasikan diri dalam genggaman-Nya.
“Katakanlah: ‘inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (QS, Yusuf:108)

1 komentar:

  1. Apapun yang ada di dunia ini...
    sudah Allah selipkan bekal pelajaran meski hanya seruas jari saja...

    BalasHapus