Man Jada Wajada

Lilin-lilin kecil mulai menari dalam gelap. Menyulut semangat malam yang kan di dekap. Sepintas sisa hujan masih ramai menghias spion nakal. Semuanya menyatu dalam akhir senja yang tak pernah kekal.

...

Jumat, Februari 24, 2012

Kiprah Perempuan


Kiprah Perempuan dalam Kancah Publik dan Politik
(Reaksi terhadap  Persepsi  Nakal dan Konsep Marginalisasi Peran Penting Kaum Perempuan)

Isu-isu kontemporer mengenai peran perempuan dalam memberikan kontribusinya di ruang publik sudah banyak dibicarakan. Pro dan kontra pun menjadi warna yang secara otomatis meramaikan ajang diskusi tentang kedudukan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.

            Menengok kembali ke sejarah panjang peradaban kaum perempuan, perempuan hanya dipandang sebagai makhluk lemah yang tertindas. Seakan perempuan dilahirkan tanpa dibekali hak dalam melangsungkan kehidupannya yang merdeka. Bahkan ada yang berpendapat bahwa perempuan hanya sebagai pemenuh kebutuhan biologis atau nafsu birahi kaum laki-laki.

            Hal tersebut diperparah dengan adanya tradisi penguburan bayi perempuan yang menjamur dalam kebiasaan sosial kaum jahiliyah Arab saat itu yang seolah-olah menjadi pelengkap potret buram kaum perempuan. Hal ini ternyata dijadikan celah bagi komunitas barat untuk menjatuhkan Islam melalui persepsi nakalnya tentang peran penting perempuan dalam kehidupan sosial.

Konsep marginalisasi terhadap eksistensi peran perempuan yang lahir karena adanya persepsi nakal kaum barat merupakan strategi mereka untuk memburamkan pendangan Islam terhadap kaum perempuan. Mereka mengonsep bahwa perempuan hanyalah sebatas makhluk tertindas. Banyaknya distorsi dan penyalahartian tersebut memicu munculnya stereotip terhadap kedudukan perempuan.

Isu lain yang muncul akibat adanya konsep marginalisasi tersebut yaitu pernyataan bahwa kultur patriarki yang berpintal dengan legitimasi teologi keagamaan masyarakat yang konservatif menjadi salah satu sekat pembatas ruang gerak kaum perempuan.





Berangkat dari ilustrasi fenomena di atas, penulis ingin mengafirmasikan kembali bahwa pada hakikatnya kaum perempuan memiliki peran penting dan pengaruh besar dalam kehidupan. Bertolak pada salah satu pernyataan sakral dari sosok tauladan kita: perempuan adalah tiang negara, maka persepsi nakal yang sudah dipaparkan itu terbantahkan dan terpatahkan secara jelas dan tegas.

Islam secara adil telah memberikan ruang gerak bagi kaum laki-laki dan perempuan. Selama mereka menjalankan kehidupan dengan berbagai amanah yang ditanggungnya, asalkan tetap berpegang teguh pada tali ajaran Islam yakni Al Quran dan Hadist maka tidak bermasalah.

Dalam ruang sosial, perempuan berperan sebagai seorang anak, istri, dan ibu. Menjadi seorang anak, peran perempuan adalah menjadi sosok generasi masa depan bangsa yang akan berkiprah untuk peradaban umat dengan tidak mengabaikan peran dari kaum laki-laki. Sebagai seorang istri, sosok perempuan hadir untuk saling melengkapi bahkan secara syari’at pun hal tersebut adalah penyempurna setengah dari diennya. Kemudian sebagai seorang ibu, Allah secara jelas memosisikan perempuan pada kedudukan yang sangat terhormat. Setiap anak dituntut untuk mempunyai perfektifitas yang tinggi kepada orang tua terutama ibu. Bahkan kegagalan menghormatinya pun termasuk pelanggaran yang berimplikasi pada dosa besar.

Seiring dengan kedinamisan perputaran zaman, ruang gerak perempuan ternyata mampu menembus dunia perpolitikan. Di Indonesia misalnya, ada satu gagasan yang menyatakan bahwa 30 % kuota dalam keanggotaan parlemen harus diisi oleh perempuan. Kuota keterwakilan ini tertuang dalam UU No. 12 tahun 2003.
Tidak ada salahnya perempuan berperan aktif dalam panggung perpolitikan. Dengan berbekal kualitas diri yang mapan baik secara intelektualitas maupun spiritualitas, maka peran perempuan sangatlah dinanti-nantikan dalam kancah sosial dan politik. Selain pandai mengatur kehidupan dalam rumah tangga keluarganya ia pun pandai bergulat dalam rumah tangga sosial dan politik.

Secara kodrati perempuan diciptakan berbeda dengan kaum laki-laki yakni sesuai dengan pembidangannya baik secara jiwa maupun raga. Gencarnya pergerakan-pergerakan tentang peran perempuan memang sah-sah saja, asalkan tidak keluar dari kodrat penciptaannya dan koridor norma-norma agama yang telah ditetapkan. Sehingga mereka, para aktivis pejuang hak perempuan tidak menghalalkan segala cara untuk menuntut apa yang ingin diraihnya dengan dalih perjuangan hak kaum perempuan.

Hal di atas merupakan salah satu bukti bahwa perempuan memanglah dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan. Ia bukan hanya sekedar ahli dapur, akan tetapi kontribusinya di bidang lain juga diperlukan. Maka semakin tegaslah esensi dari pernyataan: perempuan adalah tiang negara.

Perempuan dengan berbekal spiritualitas dan intelektualitas yang benar dan tinggi akan mampu merekonstruksi konsep peran perempuan yang sebenarnya dalam kacamata Islam. Bahkan perempuan adalah madrasah utama bagi anak-anaknya yang akan menjadi penerus perjuangan bangsa. Untuk itu, kepada kaum perempuan, marilah kita mentarbiyah diri sebagai bekal perjuangan kita dalam berbagai aspek kehidupan yakni mengisi ladang perjuangan untuk peradaban bangsa. 

Di rumah eksistensi perempuan adalah sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, menjadi ratu dalam keluarganya, menjadi sosok ibu yang baik bagi anak-anaknya dan menjadi istri yang sholehah bagi suaminya. Di luar ia pun berperan aktif dalam lingkungan sosial dan politik, turut serta berjuang di barisan penabur benih kesuksesan dalam ladang peradaban dan pembangunan bangsa untuk lebih baik.

Seyogyanya sekarang ini tidak ada lagi istilah marginalisasi terhadap kaum perempuan. Karena pada hakikatnya manusia baik laki-laki maupun perempuan diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini. Tentang persepsi nakal di atas, biarlah mereka (komunitas barat) berkutat dan menyibukan diri dengan persepsi jahiliyahnya yang masih bersarang bahkan mengakar di otak-otak liciknya.

Menjadi perempuan yang tidak kosong akan ilmu agama dan umum adalah pemerkokoh perannya sebagai tiang negara. Bagaimana mungkin sebuah negara dapat berdiri kokoh dengan kondisi kualitas perempuannya yang terbelakang dan terdiskriminasi oleh paham-paham sesat.

Realitas sekarang kaum perempuan disandingkan dengan berbagai kompleksitas tantangan, seperti halnya korban keganasan kaum laki-laki yang tak bermoral,  mulai merebaknya konsep komersialisasi perempuan dalam ruang publik, dan tantangan lainnya yang seiring dengan perkembangan waktu akan terus menggerus dan menguji daya survival kaum perempuan dalam menjaga harkat, martabat, dan eksistensinya berperan serta dalam kehidupan. Karena jika kaum perempuan di negara ini kosong akan ilmu agama dan umum, maka bobroklah masa depan bangsa, sebab dari sinilah akar kejahiliyahan akan menjalar dan berkembang ke permukaan. Untuk itu: Jadilah perempuan berkualitas penyokong generasi cerdas! Sebuah syair yang bertajuk peran perempuan menutup pemaparan penulis dalam tulisan ini.

Wanita sekarang dalam perjuangan
Menyaingi pria di segala bidang
Di rumah, di kantor
Bahkan sampai ke jalan pemerintahan

Memang peranan wanita perlu di dalam pembangunan
Tapi peranan wanita jangan sampai keterlaluan
Kalau peranan wanita melanggar batasan fungsinya
Ini bencana

Wanita dan pria tak ‘kan pernah sama
Secara kodrati berbeda fungsinya
Jiwanya, badannya
Tuhan telah mengatur pembidangannya

Wanita ditakdirkan yang melahirkan
Bukankah ini bukti kelemahan
Wanita adalah ibu manusia
Janganlah bersikap seperti ayah

Lelaki adalah pemimpin wanita
Dalam tata kehidupan dunia
Begitulah ketetapan Sang Pencipta
Lalu kenapa kau coba merubah

Kalau aturan Tuhan sudah dirubah-rubah
Pasti ‘kan kaudapatkan segala kepincangan
Karena kaum wanita memenuhi kantoran
Akhirnya banyak pria menjadi pengangguran
Emansipasi wanita perlu di dalam pembangunan
Emansipasi wanita jangan sampai keterlaluan
Emansipasi wanita jangan melawan takdir Tuhan
Ini bencana

Majulah wanita, giatlah bekerja
Namun jangan lupa tugasmu utama
Apa pun dirimu
Namun kau adalah ibu rumah tangga

Wanita laksana tiangnya negara
Tanpa tiang coba Anda bayangkan
Kalau semua maju ke garis depan
Tentunya lemah di garis belakang

Kalau wanita juga sibuk bekerja
Rumah tangga kehilangan ratunya
Kalau wanita juga sibuk bekerja
Anak-anak kehilangan pembina

Bukan salah remaja kalau mereka binal
Bukan salah mereka kalau tidak bermoral
Bukan hanya makanan, bukan hanya pakaian
Yang lebih dibutuhkan cinta dan kasih sayang
(Lirik lagu Emansipasi Wanita Ciptaan: Rhoma Irama)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar