Kau ciumi wangi yang tersisa
Mencari makna di tangkai kering
Ia pun menjawab:
“kuharap engkau tetap jaga wangiku walau sudah tak lagi wangi”
Angin pun berdecak kagum padanya
Ia mulai merumuskan wajah rindu
Kicau burung tak henti terdengar:
“ku kan tetap setia mengelilingimu dari cakrawala”
“jangan khawatir!”
Prajurit alam mulai sambung-menyambung
“Di pojok sana masih ada sisi-sisa perjuangan”
Tempayan kecil yang mulai lusuh
Menjadi saksi kesakitan sang melati
Aku tahu masih banyak prajurit baru
Yang senantiasa bergolak untuk menebar wangi
Kini kutanamkan benih harapan
Pupuklah dengan cinta yang kau punya
Maka kau kan selamatkan jiwa bangsa
Negerinya bunga melati
Meski wangiku tak sewangi dulu
Tapi… larilah! Kau kan temukan wangi baru

Tidak ada komentar:
Posting Komentar