membuka tirai kenaifan
di tengah aliran yang memasang
seruan air terjun pun
terasa makin menyudutkanku
dalam jeda napas yang kian memendek
“aku malu pada pohon rindang di pojok sana,
tapi aku benci, ia terlalu angkuh untuk kurengkuh”
“cerita apa lagi yang harus kunikmati,
menakar pelik di atas keawamanku”
“sebenarnya, aku tak ingin pertengkaran ini terjadi,
hanya memorakporandakan rajutan damai selama ini”
“Tuhan... izinkan aku menoleh, sebentar saja
berkaca pada sebuah hakikat, tanpa perlu terselip kata sesat”
“Tuhan... izinkan aku membaca, sebentar saja
menyimak kembali tautan makna, tanpa harus membutakan
mata”
“Satu lagi...
Tuhan... izinkan aku memohon, sebentar saja
mengamini doaku, untuk melerai pertengkaran kecil ini”
tiba-tiba...
alam pun menyuarakan kidung cintanya
mengisyaratkan perdamaian antara aku dan dia
meredam pertengkaran dalam sajak penyulam kata
April, 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar