Sudah saatnya,
hujan memeluk bumi dengan percikan air cintanya
Sudah saatnya,
hujan kembali memetik nada-nada indah dengan gitar senja
rinai pun mulai menari lincah
di depan dua bola mata yang ‘kan pecah
menoreh senyum, mengukir segenap asa yang indah
Diam-diam,
sang petir berbisik pelan
mengikuti alunan gitar yang bersenandung riang
dalam buaian ringan
satu dua daun itu tampak lemah raga
hingga menggugurkan pesona dirinya
di tengah resonansi hujan yang sedang berlaga
tapi mata ini bangga melihatnya
ia begitu tegar melawan, tanpa ada iba
karena ia paham benar
itulah sketsa alam yang takkan pernah pudar
Diam-diam pula,
Aku ingin tersesat di rimba hujan ini
menyiasati pelarianku yang selama ini belum terpenuhi
Tuhan...
Izinkan aku menembus kesyahduan alam
yang Engkau titipkan ini
Sungguh, aku tak ingin mengedipkan mata batin
meski hanya dalam hitungan detik secuil
sejengkal pun, takkan kubiarkan kaki ini melangkah
bercanda bersama hujan dalam sketsa senja yang indah
April, 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar