Man Jada Wajada

Lilin-lilin kecil mulai menari dalam gelap. Menyulut semangat malam yang kan di dekap. Sepintas sisa hujan masih ramai menghias spion nakal. Semuanya menyatu dalam akhir senja yang tak pernah kekal.

...

Jumat, Februari 24, 2012

Narasi Anjal

 SEBUAH NARASI ANAK JALANAN

Kesenjangan masih mengguyur tanah ini. Satu judul terpancar dalam agenda realita. Rangkaian potret-potret sosial sekilas mengisyaratkan ketidaktawadzunan skenario hidup. Tapi memang inilah hidup. Perbedaan untuk saling melengkapi. Perbedaan untuk saling
menyeimbangkan dan perbedaan untuk saling menguatkan. Sang Pencipta, pemegang tunggal skenario hidup ini, akan selalu menaburkan bumbu-bumbu kehidupan baik melalui ayat-ayat kauniyah maupun aqliyah-Nya. Tidak lain adalah sebagai alarm untuk manusia yang memang sudah bisa merespon sentilan demi sentilan yang Ia semaikan di setiap tarik ulur nafas manusia itu sendiri.

“Anak Jalanan”, salah satu catatan urgen yang terdaftar dalam agenda hidup ini.  Ketika mereka hadir sebagai objek visual bola-bola mata, sesungguhnya banyak makna yang terselubung dari sisi hidup mereka. Hanya saja masih ada orang yang belum bisa melakukan proses digesti makna secara optimal dari semua itu. 

Ketika mereka tidak lagi mempedulikan raga rapuhnya, menyapu keramaian dengan tengadah tangan. Berharap ada hati yang terpilih dan melempar koin-koin untuk mereka. Plastik, kaleng, dan kotak-kotak bermerk bekas menjadi saksi bisu dan kawan dalam pengasingan. Tidak jarang sambutan cemooh, ejekan, dan kalimat pedas lainnya berdengung di telinga, namun tampaknya imunitas psikis sudah mereka aktifkan, acuh tak acuh adalah respon utama mereka. Meski  terkadang mereka pun  terpancing oleh kail-kail pedas, sehingga amplitudo emosi pun berfluktuasi.

Mereka hidup beralaskan hamparan tanah yang kian menggersang, beratap bentangan awan dengan selimut atmosfer yang masih setia memberi keteduhan dari sengatan ultra violet. Siang dan malam, mereka isi dengan terus merajut cerita. Jalan-jalan adalah sumber inspirasi yang bertemakan pengaisan rezeki.  Dengan berlenterakan lampu-lampu manual, mereka mencoba untuk tetap menjejakan langkah-langkah juangnya. Alunan angin malam yang bersenandung harmonis dengan serbuan rasa dingin, mereka tepis dengan bara keberanian yang mereka ciptakan. Hujan dan terik mereka apresiasikan tanpa adanya keluh kesah. Terus beradaptasi. Walaupun rentetan inhibitor fisik mampu bergerilya dan mengapilaritas, sehingga menjadikan imunitas raganya makin merapuh.

Mata-mata bening anak jalanan masih menyimpan embun asa yang besar. Menatap gemilang masa depan yang masih terperangkap dalam figura fatamorgana. Seakan-akan inagurasi “anak jalanan” yang mereka sandang mengikis koagulasi asa dan semangat yang telah mereka timbun. Jangankan untuk menatap masa depan, menatap hari ini saja masih tertikam kepesimisan. Entahlah. Tidak ada keglamoran dari mereka, corak-corak dekil adalah asesoris berharga yang mereka punya.

Evolusi, statistika, logaritma, titrasi hingga pemaparan konjugasi, deskripsi dan lain sebagainya adalah kata-kata asing yang menjadi kian usang dalam peta pemikiran mereka. Harapan untuk menyentuh bangku-bangku formal yang setidaknya bisa mereka cicipi merupakan interval asa dan waktu yang masih berkabut. Semua teori-teori di bangku formal baik secara eksplisit maupun implisit mampu menghasilkan deretan angka yang merupakan akumulasi nilai-nilai kognitif dan psikomotor yang pada akhirnya terangkum dalam lembaran berharga. Kebanyakan orang menaruh persepsi bahwa lembaran itu adalah modal kelanjutan hidup. Ia tidak lain adalah lembaran ijazah.

Sangatlah berbeda dengan mereka, aplikasi teori-teori tengadah tangan dalam pencarian bulir-bulir pengisi kekosongan ventrikulus adalah ulangan harian bagi mereka. Nilai-nilainya pun bisa dievaluasi pada hari itu juga. Apakah sudah memenuhi standar kompetensi ataukah belum. Seandainya nilai-nilai yang sudah  mereka akumulasikan belum memenuhi standar kompetensi untuk pemenuhan estimasi kebutuhan hidup, maka mereka harus mengikuti program remidial, yaitu tidak lain mereka harus mencari dan mencari lagi nilai tambahan yang mereka temukan di jalan. Ya!. Jalan adalah ladang sekaligus bangku-bangku informal yang bisa menorehkan nilai-nilai penopang hidup mereka, sehingga kerangka estimasi bisa tercukupi walaupun masih dalam interval keterbatasan. Nilai-nilai itu yang secara konkret adalah koin-koin yang tertampung di dalam kotak-kotak bermerk bekas.
Satu persatu teka-teki hidup mereka pecahkan. Menarasikannya dalam lembaran-lembaran abstrak yang bertemakan fluktuasi diagram Venn kehidupan.  Mereka dengan sabar dan tekun memasang puzzle-puzzle nasib, sehingga bisa ditranskripsikan dalam bahasa nyata. Dari merekalah seharusnya kita belajar. Kesahajaan, perjuangan, dan keuletan adalah siratan makna yang terpancar dari kisi mereka. Ketika kita membaca kisah-kisah yang telah mereka narasikan dengan sentuhan musikalisasi puisi alam, setidaknya bisa menjadi impuls piranti  visual ini untuk membuka tirai-tirai kehidupan yang sarat dengan ayat-ayat berharga dari-Nya. Di tengah masyarakat yang notabene pluralis, mereka tetap menegakkan tiang-tiang semangat sebagai penyangga dan pelengkap fondasi hidup yang telah mereka konsep.

Hidup adalah sebuah proses. Dalam berproses perlu adanya penghayatan, pemaknaan, dan penikmatan. Hambar rasanya jika hanya menjalani hidup tanpa adanya eksplorasi dan apresiasi terhadap semuanya. Skala hidup akan terus mengalir, menutut kita   agar menjadi orang yang berprestasi dalam lingkup yang sebenarnya, yakni berprestasi di panggung-panggung fana dan juga berprestasi di panggung yang bernuansa kekekalan. Orang yang berprestasi adalah orang yang setia pada proses, orang yang tekun dan sabar menjalani proses, karena berprestasi sendiri adalah sebuah proses. Seperti itulah pendeskripsian tentang salah satu potret kehidupan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar