Kini kutaruh tepat di sisi meja tak bercat kuning.
Sesekali kulirik, hingga pada ujungnya aku berbisik:
Sekali pun kau layu, itu adalah caramu mengingatkanku.
Di luar, kau lebih senang bercanda dengan hujan,
bermain masa dengan titik embun nan segar,
lalu kau pun terkadang limbung di tengah gumpalan awan mendung,
aku tertarik pada satu percakapan yang pernah engkau sengketakan dulu.
Sayang, semua terasa begitu palsu.
Tuhan kembali "mempercandaiku"
mengirimkan setangkai bunga layu,
di tengah rumitnya kumaknai sepotong sajak rindu.
21.12.12

Tidak ada komentar:
Posting Komentar